hal baru

<div><embed src=”http://widget-0d.slide.com/widgets/slideticker.swf” type=”application/x-shockwave-flash” quality=”high” scale=”noscale” salign=”l” wmode=”transparent” flashvars=”cy=tg&il=1&channel=2954361355559823117&site=widget-0d.slide.com” style=”width:278px;height:278px” name=”flashticker” align=”middle”/><div style=”width:278px;text-align:left;”><a href=”http://www.slide.com/pivot?cy=tg&at=un&id=2954361355559823117&map=1″ target=”_blank”><img src=”http://widget-0d.slide.com/p1/2954361355559823117/tg_t060_v000_s0un_f00/images/xslide1.gif” border=”0″ ismap=”ismap” /></a> <a href=”http://www.slide.com/pivot?cy=tg&at=un&id=2954361355559823117&map=2″ target=”_blank”><img src=”http://widget-0d.slide.com/p2/2954361355559823117/tg_t060_v000_s0un_f00/images/xslide2.gif” border=”0″ ismap=”ismap” /></a> <a href=”http://www.slide.com/pivot?cy=tg&at=un&id=2954361355559823117&map=F” target=”_blank”><img src=”http://widget-0d.slide.com/p4/2954361355559823117/tg_t060_v000_s0un_f00/images/xslide42.gif” border=”0″ ismap=”ismap” /></a></div></div>

Dia Telah Pergi…!!!

malam kelam, tapi tak cukup menghentikan tangis yang sejak tadi ditahan, bayangnya tetap menggelinjang di tipa labirin hatiku… tapi kali ini aku harus terima kekalahan telak itu, aku harus terima jika dia bukan untukku, jika hatinya tak lagi untukku jika dia sama sekali telah berubah, sama sekali!!!

aku kembali menelan pil pahit dari semuanya. semuanya!. “emang dunia belum berakhir” koment sobatku, akhirnya dia pergi juga, bintangku…

Teruntuk sang Adam

untuk menghindari rasa sakit karena telah lama mengingat dia iseng ku buka blog bagus, di dalamnya penuh dengan semangat muda yang sarat akan ukhwah, pembahasannya waktu itu tentang Adam dan Hawa, terbersit untuk menulis koment disana, tapi ada ragu, karena itu bukan kampungku… maka kutuliskan disini…

Surat Untuk Adam [dari Hawa]

Wahai Adam,
Maafkan aku jika coretan ini memanaskan hatimu. Sesungguhnya aku adalah Hawa, temanmu yang kau pinta semasa kesunyian di syurga dahulu. Aku asalnya dari tulang rusukmu yang bengkok. Jadi tidak heranlah jika perjalanan hidupku sentiasa inginkan bimbingan darimu, sentiasa mau terperosok dari
landasan, kerana aku buruan syaitan.

Duhai Adam,
Maha suci Allah yang mentakdirkan kaumku lebih banyak jumlahnya dari kaummu di akhir zaman, itulah sebenarnya ketelitian Allah dalam urusanNya. Jika jumlah kaummu melebihi kaumku niscaya merahlah dunia kerana darah manusia, kacau-balaulah suasana, Adam sama Adam bermusuhan karena Hawa. Buktinya cukup nyata dari peristiwa habil dan Qabil sehinggalah pada zaman cucu-cicitnya. Pun jika begitu maka tidak selaraslah undang-undang Allah yang mengharuskan Adam beristri lebih dari satu tapi tidak lebih dari empat pada satu waktu.

Adam,
Bukan kerana ramainya isterimu yang membimbangkan aku, bukan karena sedikitnya jumlahmu yang merisaukan aku. Tapi…..aku risau, gundah dan gulana menyaksikan tingkahmu. Dari dulu aku sudah tahu bahawa aku mesti tunduk ketika menjadi isterimu. Namun…..terasa berat pula untukku
meyatakan isi perkara.

Adam,
Aku tahu bahwa dalam Al-Quran ada ayat yang menyatakan kaum lelaki adalah menguasai terhadap kaum wanita. Kau diberi amanah untuk mendidik aku, kau diberi tanggungjawab untuk menjaga aku, memperhatikan dan mengawasi aku agar sentiasa didalam ridha Tuhanku dan Tuhanmu. Tapi Adam, nyata dan rata-rata apa yang sudah terjadi pada kaumku kini, aku dan kaumku telah banyak mendurhakaimu. banyak yang telah menyimpang dari jalan yang ditetapkan. Asalnya Allah mengkehendaki aku tinggal tetap dirumah. Di jalan-jalan, di pasar-pasar, di bandar-bandar bukan tempatku. Jika terpaksa aku keluar dari rumah seluruh tubuhku mesti ditutup dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tapi…… realitinya kini, Hawa telah lebih dari sepatutnya.

Adam…..
mengapa kau biarkan aku begini? Aku jadi ibu, aku jadi guru, itu sudah tentu katamu. Aku ibu dan guru kepada anak-anakmu. Tapi sekarang diwaktu yang sama, aku maju ke muka mengurusi hal negara, aku ke hutan memikul senjata. Padahal, kau duduk saja. Ada diantara kau yang menganggur tiada
kerja. Kau perhatikan saja aku panjat tangga di lingkungan pejabat , kainku tinggi menyingsing paha mengamankan negara. Apakah kau sekarang tidak lagi seperti dulu? apakah sudah hilang kasih sucimu terhadapku?

Adam…..
Marahkah kau jika kukatakan andainya Hawa terperosok, maka Adam yang patut bertanggung jawab! Kenapa? Mengapa begitu ADAM? Ya! Ramai orang berkata jika anak jahat emak-bapak tak pandai didik, jika murid bodoh, guru yang tidak pandai mengajar! Adam kau selalu berkata, Hawa memang keras kepala, tak mau dengar kata, tak mudah makan nasihat, kepala batu, pada hematku yang dhaif ini Adam, seharusnya kau tanya dirimu, apakah didikanmu terhadapku sama seperti didikan Nabi MUhammad SAW terhadap isteri-isterinya? Adakah Adam melayani Hawa sama seperti psikologi Muhammad terhadap mereka? Adakah akhlak Adam-Adam boleh dijadikan contoh terhadap kaum Hawa?

Adam….
Kau sebenarnya imam dan aku adalah makmummu, aku adalah pengikut-pengikutmu kerana kau adalah ketua. Jika kau benar, maka benarlah aku. Jika kau lalai, lalailah aku. Kau punya kelebihan akal manakala aku kelebihan nafsu. Akalmu sembilan, nafsumu satu. Aku…akalku satu nafsuku beribu!

Dari itu Adam….pimpinlah tanganku, karena aku sering lupa dan lalai, sering aku tergelincir didorong oleh nafsu dan konco-konconya. Bimbinglah daku untuk menyelami kalimah Allah, perdengarkanlah daku kalimah syahdu dari Tuhanmu agar menerangi hidupku. Tiuplah ruh jihad ke dalam dadaku agar aku menjadi mujahidah kekasih Allah.

Adam,
Andainya aku masih lalai karena dirimu sendiri, masih segan mengikut langkah para sahabat, masih gentar mencegah mungkar, maka kita tunggu dan lihatlah, dunia ini akan hancur bila kaumku yang akan memerintah.Malulah engkau Adam, malulah engkau pada dirimu sendiri dan pada Tuhanmu
yang engkau agungkan itu…………………………………

di sini aku tahu, bahwa tak ada yang sempurna

di pagi buta aku tetap mengingatnya

pagi ini aku menarik selimut rapat-rapat untuk menutupi tubuhku, bener bener dingin ding!… kucari kehangatan dari balik selimut, tapi ternyata sia-sia saja. aku baru saja akan memejamkan mata, saat pintu diketuk perlahan oleh bundaku, tuch kan bunda tersayangku pasti udah nunggu dan bangun dari tadi, jadi malu dech harusnya aku lebih rajin dari beliau, umur beliau sudah tua tapi tetep aja segar dan seamangat ibadah, kuseret langkahku, mencoba melawan rasa kantuk yang bergelantungan di pelupuk mata. dinginnya air menyegarkan mata, kubasuh perlahan mulai dari muka, tangan ubun-ubun secara berurutan.

sujud terakhir kuselesaikan dengan khusuk, deg. allah aku mengingatnya lagi, bahkan di pagi buta seperti ini aku masih juga mengingatnya, aku menangis kala itu, tersedu di depanmu, aku cemburu, cemburu melihat kekhusyukan hambaMu yang jauh lebih baik daripada hamba, aku telah berkhianat pada hatiku sendiri, kenapa aku memikirkannya, aku harus melawannya. harus. kuperhatikan bunda yang masih khusuk dalam doa, di depan kami bapak juga tampak tangguh walaupun dengan kopiyah lusuhnya, aku mengecilkan volome tangisku, berharap dua orang terkasihku tak tahu apa yang terjadi… saat itulah aku sadar jika aku benar-benar cemburu, bukan hanya pada Allah tapi juga pada bintang…karena baru tadi pagi aku mendengarnya pergi dalam suatau tugas bersama si X ke kota Y dan mereka hanya berdua!. tangisku makin jadi… allah sebegitu hanifnya aku?

apa namanya ini

langit sore menerbangakan kerudungku, angin seakan tanpa lelah berlarian bersama tembikar yang panas oleh matahari musim panas yang sebntar lagi masuk peraduannya, tapi tetap menyisakan hangat itu, langkahku perlahan sekali seperti takut ada yang menahan diujung jalan nanti, tapi ada rasa sakit saat tahu hatinya tidak untukku.
sebut saja dia Bintang, sepulang kuliah tadi aku melihatnya tampak berbincang serius dengan temanku, oh tuhan apakah ini cemburu? masa? hingga detik ini aku bahkan tak tahu tentang perasaanku ini. perkenalan kami bermula sejak awal aku menginjakkan kaki di universitas x, dan sejak itu pula aku menyimpan rasa ini dengan rapi teramat rapi, tidak untuk yang lain, hanya untukku saja, hanya buatku. aku tak mau yang lain

dipersimpangan langkahku berhenti, “met sore” ada suara yang menyapaku, Bintang!. deg! aku langsung deg degkan…. oh god apa ini kenapa ini? siapa dia, kemana komitmen yang dulu aku bangun susah payah kemana? what happen dengan aku? apa ini…

oh no no masa ini….. no no no

ada yang beda disini

awal juni ini ku coba menjajaki tangan agar bisa berlari-lari di atas tuts komputer terutama di sini, membangun kepedean dengan coba menampilkan apa adanya tentunya. iseng ku buka kampung baru disini, yups berhasil. yeyeyeyeyeyey